Keinginan untuk menjadi penghuni surga tidak cukup hanya dengan berdoa, tetapi kita juga harus berusaha memiliki sifat dan amal yang menjadi ciri-ciri penghuni surga. Usaha tersebut harus dilakukan sekarang, di dalam kehidupan kita di dunia ini.
Memberikan Makanan. Makanan dan minuman merupakan kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi oleh setiap individu. Namun, banyak orang yang tidak mampu memenuhi kebutuhan tersebut atau memberikan makanan yang tidak sesuai dengan standar kesehatan. Oleh karena itu, salah satu tindakan yang dapat membawa kita menuju surga adalah dengan memberikan makanan kepada orang yang membutuhkannya. Rasulullah saw pernah bersabda bahwa memberikan makanan kepada orang yang lapar adalah salah satu amal yang dapat membawa seseorang masuk surga.
Menjaga Silaturrahim. Hubungan antar sesama harus dijaga dengan baik, terutama dengan saudara-saudara dalam iman dan keluarga. Menjaga silaturrahim adalah tindakan yang sangat dianjurkan dalam Islam dan merupakan salah satu amal yang dapat mendekatkan seseorang kepada surga. Rasulullah saw juga mengingatkan umatnya untuk selalu menjaga hubungan baik antar sesama, menjalin silaturrahim, dan berusaha memperbaiki hubungan yang terputus.
Dengan melakukan kedua amal di atas, kita dapat memperoleh jaminan untuk masuk surga dengan selamat. Oleh karena itu, mari kita terus berusaha untuk memiliki sifat dan amal yang akan mendekatkan kita kepada kebahagiaan abadi di surga.
Jika kita selalu memperkuat tali persaudaraan, maka dalam hadits di atas, kita dijamin surga oleh Rasulullah saw. Namun, jika kita memutuskannya, kita berisiko tidak masuk surga. Rasulullah saw bersabda: "Tidak akan masuk surga orang yang suka memutuskan, Sufyan berkata dalam riwayatnya: yaitu memutuskan tali persaudaraan" (HR. Bukhari dan Muslim).
"Ketika Rasulullah saw bertanya kepada para sahabat tentang siapa yang akan menjadi penghuni surga, di antaranya beliau menjawab: Seorang laki-laki yang mengunjungi saudaranya di penjuru kota dengan ikhlas karena Allah" (HR. Ibnu Asakir, Abu Na'im dan Nasa'i).
Shalat Malam di tempat terpuji di sisi Allah swt adalah surga yang penuh dengan kenikmatan yang tak terkira. Salah satu cara untuk mendapatkan tempat terpuji tersebut adalah dengan melaksanakan shalat tahajjud saat kebanyakan orang tertidur. Allah swt berfirman: "Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang Terpuji" (QS Al Isra [17]:79).
Seseorang yang rajin melaksanakan shalat tahajjud akan merasa dekat dengan Allah swt. Ia tidak akan menyimpang dari ketentuan Allah swt meskipun dihadapkan pada peluang untuk melakukannya.
Memudahkan orang lain juga merupakan amal yang mendatangkan jaminan surga. Rasulullah saw bersabda: "Sesungguhnya seorang lelaki masuk surga. Dia ditanya: 'Apa yang dulu kamu kerjakan?'. Dia menjawab: 'Aku berjual beli dengan manusia lalu aku memberi tempo kepada orang yang dalam kesulitan dan mempermudah urusan dengan pembayaran dengan dinar atau dirham'. Maka dia diampuni" (HR. Muslim dan Ibnu Majah).
Berjihad juga merupakan tindakan yang mengantarkan seseorang ke surga. Allah swt berfirman: "Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersama Dia, mereka berjihad dengan harta dan diri mereka. Mereka itulah orang-orang yang memperoleh kebaikan, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. Allah telah menyediakan bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar" (QS At Taubah [9]:88-89).
Dalam sebuah hadis, Rasulullah saw juga mengatakan tentang jaminan Allah kepada orang yang berjihad untuk masuk surga: Ada tiga orang yang dijamin oleh Allah, yaitu: seorang lelaki yang pergi berperang di jalan Allah, maka dia dijamin oleh Allah hingga ajalnya tiba, kemudian dimasukkan ke surga dengan segala pahala atau harta rampasan perang yang diperolehnya. Dan seseorang yang pergi ke masjid, maka dia dijamin oleh Allah hingga ajalnya tiba, kemudian dimasukkan ke surga atau diberikan pahala atau harta yang diperolehnya; dan seseorang yang masuk ke rumahnya dengan mengucapkan salam, maka dia dijamin oleh Allah (HR. Abu Daud).
Bahkan orang yang berjihad dan mati syahid, meskipun dahulu ia kafir dan pernah membunuh umat Muslim, dijamin masuk surga, Rasulullah saw bersabda: Allah tersenyum kepada dua orang yang saling membunuh dan keduanya masuk surga. Para sahabat bertanya: "Bagaimana itu, ya Rasulullah?". Beliau menjawab: "Yang satu (Muslim) terbunuh dalam peperangan dan masuk surga. Kemudian yang satunya lagi (kafir) diterima taubatnya oleh Allah dan masuk Islam, lalu berjihad di jalan Allah dan mati syahid" (HR. Muslim dan Abu Hurairah ra).
Takabbur atau kesombongan adalah menganggap diri lebih tinggi dengan meremehkan orang lain, sehingga orang yang sombong seringkali menolak kebenaran, terutama jika itu datang dari orang yang posisinya lebih rendah. Oleh karena itu, jika seseorang meninggal dalam keadaan bebas dari kesombongan, dia dijamin masuk surga, Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa yang meninggal dan terbebas dari tiga hal, yaitu kesombongan, fanatisme, dan utang, maka dia akan masuk surga" (HR. Tirmidzi).
Kesombongan adalah sifat yang diwariskan oleh Iblis, yang membuatnya dihukum dosa dan dimasukkan ke dalam neraka. Allah berfirman: "Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami membentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: 'sujudlah kepada Adam', maka mereka semua sujud kecuali Iblis. Dia tidak termasuk yang sujud. Allah berfirman: 'Mengapa kamu tidak sujud saat Aku menyuruhmu?' Iblis menjawab: 'Aku lebih baik daripadanya, Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah'. Allah berfirman: 'Turunlah kamu dari surga itu, karena kamu tidak seharusnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, kamu termasuk orang yang hina" (QS Al A'raf[7]: 11-13, QS Mukmin [40]: 60).
Jika seseorang bersikap sombong, peluangnya untuk masuk surga sangat kecil, Rasulullah saw bersabda: "Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada seberat biji sawi dari kesombongan" (HR. Muslim).
Tidak boleh memiliki fanatisme yang berlebihan. Meskipun manusia memiliki latar belakang yang berbeda, termasuk dalam kelompok-kelompok berdasarkan suku, bangsa, atau golongan, tidak masalah selama tidak sampai pada fanatisme yang berlebihan sehingga mengukur kemuliaan seseorang berdasarkan golongan. Para sahabat dibagi menjadi Muhajirin (orang yang berhijrah dari Makkah ke Madinah) dan Anshar (orang Madinah yang memberi pertolongan kepada Muhajirin). Golongan-golongan itu boleh ada selama tidak sampai pada fanatisme yang berlebihan.
Manakala seseorang memiliki fanatisme yang berlebihan terhadap golongan sehingga segala pertimbangan dan penilaian terhadap sesuatu berdasarkan golongannya, bukan berdasarkan nilai-nilai kebenaran, maka hal ini sudah tidak bisa dibenarkan, inilah yang disebut dengan ashabiyah yang sangat dilarang di dalam Islam. Bila kita mati terbebas dari hal ini, dijamin masuk surga oleh Rasulullah saw dalam hadits di atas, namun tidak masuk surga seseorang yang mati dalam keadaan demikian, karena Rasulullah saw tidak mau mengakui orang yang demikian itu sebagai umatnya. Hal ini terdapat dalam hadits Nabi saw: "Bukan golongan kamu orang yang menyeru kepada ashabiyah, bukan golongan kami orang yang berperang atas ashabiyah dan bukan golongan kami orang yang mati atas ashabiyah" (HR. Abu Daud).
Terbebas Dari Utang. Dalam hidup ini, manusia seringkali melakukan hubungan muamalah dengan sesamanya, salah satunya adalah transaksi jual beli. Namun dalam proses jual beli tidak selalu hal itu dilakukan secara tunai atau seseorang tidak punya uang padahal ia sangat membutuhkannya, maka iapun meminjam uang untuk bisa memenuhi kebutuhannya, inilah yang kemudian disebut dengan utang. Sebagai manusia, apalagi sebagai muslim yang memiliki harga diri, sedapat mungkin utang itu tidak dilakukan, apalagi kalau tidak mampu membayarnya, kecuali memang sangat darurat, karena itu seorang muslim harus hati-hati dalam masalah utang. Rasulullah saw bersabda: "Berhati-hatilah dalam berutang, sesungguhnya berutang itu suatu kesedihan pada malam hari dan kerendahan diri (kehinaan) pada siang hari" (HR. Baihaki).
Namun apabila manusia yang berutang tidak mau memperhatikan atau tidak mau membayarnya, maka hal itu akan membawa keburukan bagi dirinya, apalagi dalam kehidupan di akhirat nanti. Hal ini karena utang yang tidak dibayar akan menggerogoti nilai kebaikan seseorang yang dikakukannya di dunia, kecuali bila ia memang tidak mempunyai kemampuan untuk membayarnya. Rasulullah saw bersabda: "Utang itu ada dua macam, barangsiapa yang mati meninggalkan utang, sedangkan ia berniat akan membayarnya, maka saya yang akan mengurusnya, dan barangsiapa yang mati, sedangkan ia tidak berniat akan membayarnya, maka pembayarannya akan diambil dari kebaikannya, karena di waktu itu tidak ada emas dan perak" (HR. Thabrani).
Peka Terhadap Peringatan. Peka terhadap peringatan membuat seseorang mudah menerima segala peringatan dan nasihat dari siapapun agar waspada terhadap segala bahaya dalam kehidupan di dunia dan akhirat, sikap ini merupakan sesuatu yang amat penting karena setiap manusia amat membutuhkan peringatan dari orang lain, karenanya orang seperti itu akan mudah menempuh jalan hidup yang benar sehingga mendapat jaminan akan masuk ke dalam surga. Orang seperti ini digambarkan oleh Rasulullah saw sebagai orang yang berhati seperti burung sebagaimana disebutkan dalam sabdanya: "Akan masuk surga kelak kaum-kaum yang hati mereka seperti hati burung" (HR. Ahmad dan Muslim).
Menahan Amarah Al ghadhab atau marah merupakan salah satu sifat yang sangat berbahaya sehingga ia telah menghancurkan manusia, baik secara pribadi maupun kelompok. Ada beberapa bahaya dari sifat marah yang harus diwaspadai. Pertama, merusak iman, karena semestinya bila seseorang sudah beriman dia akan memiliki akhlak yang mulia yang salah satunya adalah mampu mengendalikan dirinya sehingga tidak mudah marah kepada orang lain. Rasulullah saw bersabda: "Marah itu dapat merusak iman seperti pahitnya jadam merusak manisnya madu" (HR. Baihaki).
Kedua, mudah mendapatkan murka dari Allah swt terutama pada hari kiamat, karena itu pada saat kita hendak marah kepada orang lain mestinya kita segera mengingat Allah sehingga tidak melampiaskan kemarahan dengan hal-hal yang tidak benar. Allah swt berfirman sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Qudsi: "Wahai anak Adam, ingatlah kepada-Ku ketika kamu marah. Maka Aku akan mengingatmu jika Aku sedang marah (pada hari akhir)". Ketiga, mudah marah juga akan mudah menyulut kemarahan orang lain sehingga hubungan kita kepada orang lain bisa menjadi renggang bahkan terputus sama sekali.
Oleh karena itu, seseorang baru disebut sebagai orang yang kuat ketika ia mampu mengendalikan dirinya pada saat marah sehingga kemarahan itu dalam rangka kebenaran bukan dalam rangka kebathilan. Rasulullah saw bersabda: "Orang kuat bukanlah yang dapat mengalahkan musuh, namun orang yang kuat adalah orang yang dapat mengontrol dirinya ketika marah" (HR. Bukhari dan Muslim). Apabila seseorang mampu menahan amarahnya, maka dia akan mendapatkan nilai keutamaan yang sangat besar dari Allah swt, dalam hal ini Rasulullah saw menyebutkan jaminan surga untuknya: "Janganlah engkau marah dan surga bagimu" (HR. Ibnu Abid Dunya dan Thabrani).
Ikhlas Menerima Kematian Anak dan Orang Yang Dicintai. Setiap orang yang berumah tangga pasti mendambakan punya anak, karena anak itu menjadi harapan masa depan dan kesinambungan keluarga. Karenanya bahagia sekali seseorang bila dikaruniai anak, baik laki maupun perempuan. Karena itu saat anak lagi disayang dan amat diharapkan untuk mencapai masa depan yang baik tapi tiba-tiba meninggal dunia, maka banyak orang tua yang tidak ikhlas menerima kenyataan itu. Bila sebagai orang tua kita ikhlas menerima kematian anak, maka hal ini bisa memberi jaminan kepada kita untuk bisa masuk surga. Rasulullah saw bersabda: "Tidaklah mati tiga anak seseorang, lalu dia merelakannya (karena Allah) kecuali dia rnasuk surga". Seorang wanita bertanya: "atau dua orang anak juga, wahai Rasulullah?". Beliau menjawab: "atau dua anak" (HR. Muslim).
Meskipun demikian, sedih atas kematian anak tetap boleh dirasakan karena tidak mungkin rasanya kematian anggota keluarga tanpa kesedihan, Rasulullah saw sendiri amat sedih atas kematian anaknya, namun kesedihan yang tidak boleh berlebihan seperti meratap. Dalam suatu hadits dijelaskan: Anas ra berkata: Ketika Rasulullah saw masuk melihat Ibrahim (puteranya) yang sedang menghembuskan nafasnya yang terakhir, maka kedua mata Rasulullah saw bertinang-linang ketika ia wafat, sehingga tampak air mata mengalir di muka beliau. Abdurrahman bin Auf berkata: "Engkau demikianjuga ya Rasulullah?". Jawab Nabi: "Sesungguhnya ini sebagai tanda rahmat dan belas kasihan", Lalu beliaubersabda: "Mata berlinang dan hati merasa sedih, tapi kami tidak berkata kecuali yang diridhai Tuhan dan kami sungguh berduka cita karena berpisah denganmu hai Ibrahim (HR. Ahmad dan Tirmidzi).
Dalam hadits lain, Allah swt memberikan jaminan surga kepada orang yang ridha menerima kematian orang yang dicintainya di dunia ini. Abu Hurairah ra mengatakan bahwa Rasulullah saw bersabda dalam hadits qudsi: "Tidak ada pembalasan bagi seorang hamba-Ku yang percaya, jika Aku mengambil kekasihnya di dunia, kemudian ia ridha dan berserah kepada-Ku, melainkan surga" (HR. Bukhari).
Bersaksi atas kebenaran Al-Qur'an juga harus ditunjukkan melalui penyebaran nilai-nilainya dalam kehidupan masyarakat dan terutama dalam sikap dan perilaku sehari-hari. Orang-orang yang bersaksi atas kebenaran Al-Qur'an dengan tulus akan mendapat jaminan masuk surga dari Allah swt, sebagaimana firman-Nya: "Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al-Qur'an) yang telah mereka ketahui; seraya berkata: 'Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi atas kebenaran Al-Qur'an dan kenabian Muhammad saw.
Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang saleh?' Maka Allah memberi mereka pahala terhadap perkataan yang mereka ucapkan, (yaitu) surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya, dan itulah balasan bagi orang-orang yang berbuat kebaikan dengan ikhlas (QS. Al-Maidah: 5]: 83-85).
Berbagi dengan orang lain juga merupakan salah satu amal kebaikan yang dapat membawa seseorang menuju surga. Memberikan binatang ternak seperti kambing untuk kebaikan orang lain akan mendapat pahala yang besar dari Allah swt, sebagaimana hadits Rasulullah saw: "Empat puluh kebaikan yang paling tinggi adalah pemberian seekor kambing yang diperah susunya. Tidak seorangpun yang melakukan salah satu darinya dengan mengharapkan pahala dan membenarkan apa yang dijanjikan karenanya, kecuali Allah memasukkannya ke dalam surga" (HR. Bukhari).
Menjadi hakim yang benar juga merupakan amal kebaikan yang dapat membawa seseorang menuju surga. Rasulullah saw bersabda: "Hakim-hakim itu ada tiga golongan, dua golongan di neraka dan satu golongan di surga: Orang yang mengetahui yang benar lalu memutus dengannya, maka dia di surga. Orang yang memberikan keputusan kepada orang-orang di atas kebodohan, maka dia itu di neraka dan orang yang mengetahui yang benar lalu dia menyeleweng dalam memberikan keputusan, maka dia di neraka" (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Nasa'l, Ibnu Majah dan Hakim).
Oleh karena itu, sebagai seorang muslim, kita perlu berusaha untuk melakukan kebaikan-kebaikan yang dapat mendekatkan kita kepada surga.




Komentar :
Posting Komentar